Pesantren ADZ-DZIKRA Cilegon: Pelopor Tahfidz Al-Qur’an yang Cetak Pemimpin Bangsa Sejak Usia Dini

Pesantren ADZ-DZIKRA Cilegon: Pelopor Tahfidz Al-Qur’an yang Cetak Pemimpin Bangsa Sejak Usia Dini

CYBER88 | Cilegon – Di tengah tantangan zaman dan derasnya arus globalisasi, Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an ADZ-DZIKRA yang berlokasi di Jalan Dharma Kusuma Pagebangan No.165, Kelurahan Ketileng Barat, Kota Cilegon, terus konsisten menanamkan nilai-nilai keislaman melalui pendidikan Al-Qur’an. Didirikan pada tahun 2021 oleh Buya Tsabit El Zufri, pesantren ini telah menjadi rujukan sekaligus pionir dalam program Tahfidz Al-Qur’an di wilayah Cilegon.

Pesantren ini memiliki visi besar,  membentuk generasi Qur’ani yang tidak hanya kuat dalam hafalan, tetapi juga memiliki intelektualitas tinggi dan kepemimpinan berlandaskan nilai spiritual.

“Kami ingin mencetak pemimpin masa depan yang cerdas secara intelektual, matang secara spiritual, dan memiliki kedekatan yang kuat dengan Al-Qur’an,” ungkap Buya Tsabit, saat ditemui pada Rabu, 23 Juli 2025.

Meski berada di Cilegon, para santri dan santriwati yang menimba ilmu di ADZ-DZIKRA berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Di antaranya dari Jambi, Lampung, Pandeglang, Serang, Bogor, Tangerang, dan tentu saja Cilegon sendiri. Hal ini menunjukkan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap sistem pendidikan di pesantren ini.

Berbeda dari pesantren tradisional pada umumnya, ADZ-DZIKRA memadukan pembelajaran Tahfidz Al-Qur’an dengan pendidikan formal. Bagi santri dari tingkat SD, SMP, hingga SMA, pesantren menyediakan jalur pendidikan melalui lembaga PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat). Hal ini memungkinkan santri untuk tetap menempuh pendidikan umum sambil memperkuat hafalan mereka.

“Dengan PKBM, para santri bisa fokus pada tahfidz, tapi juga tetap mendapatkan ijazah pendidikan umum. Kami ingin mereka lulus tidak hanya sebagai penghafal Qur’an, tapi juga siap melanjutkan pendidikan tinggi atau terjun ke masyarakat dengan kompetensi luas,” jelas Asep.

Menurut Buya Tsabit, keberadaan pesantren ini telah menjadi inspirasi bagi banyak lembaga pendidikan keislaman lainnya di Kota Cilegon. “Alhamdulillah, sejak awal kami hadir membawa konsep pesantren Tahfidz modern, dan kini banyak pesantren lain di Cilegon yang mengikuti jejak ini. Kami bersyukur bisa menjadi motor dan pelopor dalam menghidupkan tradisi hafalan Al-Qur’an,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa mendidik generasi penghafal Al-Qur’an sejak dini adalah investasi besar bagi bangsa.

“Ketika pemimpin bangsa dekat dengan Al-Qur’an, insyaAllah negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur akan terwujud. Negeri yang diberkahi dan penuh kebaikan,” tambahnya penuh harap..

Di tengah julukan Cilegon sebagai "Kota Santri", ADZ-DZIKRA justru menyoroti rendahnya minat masyarakat untuk memasukkan anak-anaknya ke pesantren. Asep Junaidi nadzir pesantren menyayangkan hal tersebut dan berharap pemerintah lebih hadir mendukung peran pesantren dalam pembangunan generasi muda.

“Kami butuh perhatian lebih dari pemerintah daerah, baik dari sisi fasilitas maupun kebijakan. Kami juga mengajak para orang tua untuk tidak ragu memasukkan anak-anak ke pesantren. Jangan sampai label Kota Santri hanya menjadi slogan, tanpa didukung oleh generasi yang siap memakmurkan masjid dan mencintai Al-Qur’an,” pungkasnya.

 

Komentar Via Facebook :