ILS Lahir di Bandung Saatnya Indonesia Berdaulat Pangan!

ILS Lahir di Bandung Saatnya Indonesia Berdaulat Pangan!

Pendirian dan Soft Launching Indonesian Locavore Society (ILS)

CYBER88 | BANDUNG — Kekhawatiran terhadap meningkatnya ketergantungan impor pangan menjadi latar lahirnya gerakan budaya pangan Indonesian Locavore Society (ILS). Deklarasi dan soft launching organisasi ini digelar di Adhigana Resto, Jalan Cisangkuy No. 62 Kota Bandung pada Sabtu (1/11/2025).

Syarif Bastaman, Pembina sekaligus Inisiator ILS, mengungkapkan bahwa data Januari–Agustus 2025 menunjukkan impor pangan Indonesia berada pada tren yang mengkhawatirkan.

Menurutnya, impor kedelai sebagai bahan baku utama makanan favorit masyarakat seperti tahu dan tempe diperkirakan akan mencapai 2,05 juta ton. Impor gandum menembus 8,43 juta ton, menandakan ketergantungan total terhadap bahan baku tepung dan mi impor. Hal serupa terjadi pada gula dengan jumlah impor 3,38 juta ton.

“ILS kami dirikan untuk memulai kedaulatan pangan dari keseharian di meja makan. Juga agar Indonesia dapat menghemat devisa sebagai modal pertumbuhan ekonomi bangsa,” ungkap pengusaha sumber daya alam asal Tasikmalaya tersebut.

Struktur kepengurusan ILS diisi oleh sejumlah tokoh nasional. Pembina selain Syarif, yaitu Erry Riana Hardjapamengkas (tokoh anti korupsi) dan Ayi Vivananda (Mantan Wakil Wali Kota Bandung 2003–2008).
Jabatan Ketua Umum diamanahkan kepada Eep S. Maqdir, seorang aktivis agrobisnis sekaligus ahli multimedia, dengan Widiana Safaat (Ketua DPC HKTI Kabupaten Garut) sebagai Sekretaris.

Dewan Pengawas terdiri dari Andri P. Kantaprawira (budayawan Sunda dan Ketua MMS) serta Dedi M. Martapraja (jurnalis senior Kompas, mantan Kepala Biro Kompas Jabar).
Turut memperkuat kepengurusan, komedian senior Denny Chandra Iriana, salah satu pendiri P-Project.

Eep S. Maqdir menjelaskan bahwa ILS lahir sebagai respons atas perubahan budaya konsumsi masyarakat dunia. Kini semakin banyak orang sadar pentingnya kembali ke pangan lokal (local food), dengan memahami asal dan proses produksi makanan yang dikonsumsi.

“Locavore adalah gerakan yang mendorong manusia untuk mengonsumsi bahan pangan yang tumbuh dan diproduksi di lingkungan terdekatnya,” tuturnya.

Ia menambahkan, gerakan locavore berkembang bukan sekadar pola makan, melainkan sebuah pernyataan budaya dan etika — tentang tanggung jawab terhadap bumi, kedaulatan pangan, serta penghargaan bagi petani, peternak, dan pengrajin pangan sebagai penopang kehidupan.

Syarif Bastaman menyebutkan bahwa setelah pendirian, ILS akan langsung bergerak dengan berbagai program nyata, salah satunya menyiapkan warung nasi terjangkau berbahan lokal sepenuhnya.

“Ke depan kami akan membuat Indeks Locavore se-Indonesia, menghadirkan restoran fine dining berbahan lokal di Bali, sertifikasi pelaku usaha kuliner, hingga penerapan zona 120 km — yaitu bahan makanan berasal dari area pertanian maksimal 120 km dari lokasi konsumsi,” jelasnya.

Komentar Via Facebook :