SMPN 1 Karangdowo Perkuat Budaya Peduli Lingkungan, Guru dan Siswa Didorong Jadi Pelopor Sekolah Adiwiyata

SMPN 1 Karangdowo Perkuat Budaya Peduli Lingkungan, Guru dan Siswa Didorong Jadi Pelopor Sekolah Adiwiyata

CYBER88 | Klaten – Upaya mewujudkan sekolah yang bersih, sehat, dan peduli lingkungan terus diperkuat . Melalui In House Training (IHT) selama dua hari, sekolah ini menegaskan komitmennya membangun budaya lingkungan yang tidak berhenti pada slogan, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan bersama seluruh warga sekolah.

Kegiatan bertema “Program Sekolah Berbudaya Lingkungan Menuju Sekolah Adiwiyata” tersebut diikuti guru dan tenaga kependidikan sebagai langkah awal memperkuat pemahaman sekaligus menyatukan komitmen dalam menciptakan lingkungan sekolah yang bersih, nyaman, dan berkelanjutan.

Kepala , Sugeng Sihono, menegaskan bahwa pelatihan ini bukan sekadar memenuhi program sekolah, melainkan menjadi bagian dari pembentukan karakter seluruh warga sekolah, khususnya guru sebagai teladan bagi peserta didik.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin menanamkan rasa handarbeni atau rasa memiliki terhadap sekolah. Ketika guru dan tenaga kependidikan memiliki kepedulian yang kuat terhadap lingkungan, maka nilai itu akan lebih mudah ditularkan kepada siswa dalam kehidupan sehari-hari di sekolah,” ujar Sugeng usai kegiatan, Rabu (8/7/2026).

Menurutnya, sasaran utama dari program tersebut adalah perubahan perilaku. Budaya menjaga kebersihan harus tumbuh dari kesadaran, bukan karena pengawasan atau instruksi semata. Karena itu, para guru didorong membangun pembiasaan sederhana kepada siswa, seperti disiplin membuang sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan kelas, hingga merawat lingkungan sekolah bersama-sama.

Selain pembiasaan, pendidikan lingkungan juga diarahkan masuk ke dalam proses pembelajaran. Guru diminta menyusun perangkat ajar yang memuat nilai-nilai kepedulian terhadap lingkungan, sehingga pesan tentang kebersihan, pengelolaan sampah, dan pelestarian lingkungan dapat terintegrasi dalam kegiatan belajar mengajar.

“Keberhasilan program ini nantinya bisa dilihat dari perubahan perilaku siswa, suasana kelas yang semakin bersih, dan tumbuhnya kebiasaan menjaga lingkungan sebagai bagian dari budaya sekolah,” jelasnya.

Sementara itu, pemateri IHT, Subroto, yang juga Kepala , menilai sekolah yang ingin meraih predikat Adiwiyata harus lebih dulu membangun kesadaran kolektif seluruh warganya. Menurut dia, penyediaan tempat sampah atau fasilitas kebersihan saja tidak cukup apabila belum diikuti perubahan pola pikir dan perilaku.

Ia menyoroti masih adanya kebiasaan yang kerap dianggap sepele, seperti penggunaan plastik sekali pakai, membawa jajanan berbungkus, lalu membuang sampah sembarangan di lingkungan sekolah. Padahal, kebiasaan kecil seperti itu menjadi salah satu penyumbang persoalan kebersihan yang berulang di banyak sekolah.

“Guru memiliki peran penting dalam membentuk karakter siswa. Anak-anak perlu dibiasakan membawa botol minum sendiri, mengurangi penggunaan plastik, dan bertanggung jawab atas sampah yang mereka hasilkan. Kalau itu dilakukan terus-menerus, maka kepedulian lingkungan akan tumbuh menjadi karakter,” kata Subroto.

Ia berharap gerakan peduli lingkungan di sekolah tidak hanya berhenti di ruang kelas, tetapi juga berdampak pada kehidupan siswa di rumah dan masyarakat sekitar. Lingkungan sekolah yang bersih, menurutnya, bukan hanya mendukung kenyamanan belajar, tetapi juga mencerminkan keberhasilan pendidikan karakter.

Melalui kegiatan ini, ingin memastikan Program Sekolah Berbudaya Lingkungan benar-benar menjadi gerakan nyata yang melibatkan guru, siswa, tenaga kependidikan, dan seluruh pemangku kepentingan sekolah. Harapannya, sekolah tidak hanya layak menyandang predikat Sekolah Adiwiyata, tetapi juga mampu melahirkan generasi yang lebih peduli, disiplin, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Komentar Via Facebook :