Gunung Anak Krakatau Terus Erupsi hingga 143 Kali, Status Siaga Masih Level III
CYBER88 | SERANG — Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, masih tinggi. Gunung api tersebut tercatat terus mengalami erupsi sejak awal Agustus 2026.
Berdasarkan data pemantauan hingga 25 Agustus 2026, Gunung Anak Krakatau telah mengalami sebanyak 143 kali erupsi sejak awal bulan. Aktivitas erupsi tersebut masih berlangsung hingga Rabu (26/8/2026).
Petugas Pemantau Gunung Anak Krakatau, Anggi Nuryo Saputro, mengatakan selain aktivitas erupsi, secara visual gunung api tersebut masih mengeluarkan asap kawah berwarna putih dengan intensitas cukup pekat.
Menurut Anggi, sebaran asap maupun material vulkanik sangat dipengaruhi oleh arah dan kecepatan angin.
"Sampai saat ini memang Gunung Anak Krakatau masih terus erupsi. Bahkan sejak awal bulan Agustus sampai dengan tanggal 25 Agustus kemarin, sudah terjadi sebanyak 143 erupsi," ujar Anggi.
Ia menambahkan, dampak asap erupsi saat ini terpantau mengarah ke wilayah Lampung. Namun, kondisi tersebut masih dalam batas yang dapat dipantau dan belum menimbulkan gangguan signifikan di wilayah sekitar.
Aktivitas kegempaan di Gunung Anak Krakatau juga masih terekam. Gempa yang terjadi didominasi oleh aktivitas vulkanik yang berkaitan dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
"Sampai hari ini yang terdampak masih di wilayah Lampung dan pulau-pulau di sekitarnya. Kalau untuk gempa masih gempa vulkanik, dan tidak ada gempa tektonik," tegas Anggi.
Sementara itu, Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Pasauran, Kabupaten Serang, Banten, masih belum mengubah status gunung api tersebut. Gunung Anak Krakatau hingga kini masih berada pada Level III atau Siaga.
Masyarakat, nelayan, serta wisatawan diminta tetap mematuhi rekomendasi keselamatan yang dikeluarkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Masyarakat dan wisatawan juga diminta tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau dalam radius sekitar tiga kilometer dari kawah aktif.
PVMBG terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau, meliputi aktivitas erupsi, kegempaan, serta perubahan visual gunung api.
Masyarakat di sekitar Selat Sunda diimbau tidak panik, namun tetap mengikuti informasi resmi dari PVMBG dan Badan Geologi serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau terus menjadi perhatian karena gunung api tersebut berada di kawasan Selat Sunda dan memiliki sejarah aktivitas erupsi yang tinggi. Badan Geologi sebelumnya juga menegaskan pentingnya masyarakat mengikuti rekomendasi PVMBG terkait zona bahaya Gunung Anak Krakatau. (Ferry Yuniar)


Komentar Via Facebook :