Sahroni Desak Polri Evaluasi Parade Sound Horeg Usai Tiga Warga Jatim Meninggal
Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni
CYBER88 | Jakarta – Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni meminta kepolisian melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan kegiatan yang menggunakan sound horeg. Desakan tersebut muncul setelah tiga orang meninggal dunia dalam sejumlah insiden yang berkaitan dengan parade sound horeg di Jawa Timur sepanjang Agustus 2026.
Menurut Sahroni, evaluasi diperlukan untuk memastikan kegiatan serupa tidak kembali menimbulkan korban. Ia meminta aparat tidak hanya memperhatikan sisi hiburan dan budaya, tetapi juga memastikan keselamatan masyarakat yang berada di sekitar lokasi.
“Pihak Polri harus dan wajib evaluasi acara sound horeg tersebut karena sudah memakan korban. Kalau tidak dievaluasi, semakin banyak korban ke depan,” kata Sahroni kepada wartawan, Rabu (2/9/2026).
Ia menegaskan bahwa budaya dan tradisi masyarakat tetap harus dihargai. Namun, penghormatan terhadap tradisi tidak boleh mengesampingkan aspek keamanan, terlebih apabila kegiatan tersebut berpotensi membahayakan warga.
“Kita hormati budaya, tapi jangan sampai memakan korban kembali ke depannya,” ujarnya.
Sahroni juga meminta polisi mendalami setiap kemungkinan adanya kelalaian dalam penyelenggaraan kegiatan. Jika ditemukan unsur kelalaian, menurutnya, aparat harus mengambil tindakan sesuai ketentuan hukum.
“Polisi wajib selidiki bilamana ada dugaan lalai dalam pelaksanaan event tersebut. Polisi harus bersikap tegas agar kejadian serupa tidak terulang kembali,” tegasnya.
Ia mengingatkan agar kematian yang terjadi dalam suatu kegiatan tidak dianggap sebagai konsekuensi biasa dari sebuah tradisi.
“Jangan menormalisasi budaya mengakibatkan meninggalnya seseorang. Itu sangat menyedihkan,” tutur Sahroni.
Tiga Orang Meninggal dalam Insiden Berbeda
Sejumlah insiden yang berkaitan dengan sound horeg tercatat terjadi di Jawa Timur selama Agustus 2026. Tiga orang dilaporkan meninggal dalam peristiwa berbeda, mulai dari kru sound system hingga warga yang mengikuti atau berada di sekitar jalur kegiatan.
Korban pertama diketahui berinisial SN (29), seorang kru sound horeg asal Jember. Ia meninggal setelah kepalanya terbentur gapura ketika berada di atas truk yang membawa perangkat sound system.
Kecelakaan itu terjadi pada Minggu (2/8/2026). Saat kejadian, rombongan sound horeg sedang dalam perjalanan pulang setelah mengikuti karnaval di Desa Kaliwining, Kecamatan Rambipuji, Jember.
Korban berikutnya adalah Bonari (44), warga Banyuwangi. Ia meninggal ketika mengikuti karnaval sound horeg di Desa Sumbermulyo, Kecamatan Pesanggaran, pada Minggu (23/8/2026).
Bonari diduga mengalami serangan jantung setelah sebelumnya mengonsumsi minuman keras jenis arak. Ia sempat berjalan bersama rombongan sejauh sekitar satu kilometer sebelum tiba-tiba terjatuh. Setelah dibawa ke puskesmas, nyawanya tidak berhasil diselamatkan.
Sementara korban ketiga bernama Slamet Timbang (57), warga Desa Wringinagung, Kecamatan Jombang, Jember.
Slamet meninggal setelah tertimpa kanopi dan bagian tembok sebuah apotek pada Sabtu (29/8/2026). Saat kejadian, ia tengah mengantar istrinya membeli obat ketika karnaval dan parade sound horeg berlangsung.
Warga setempat menduga getaran keras yang muncul saat kegiatan cek sound sehari sebelumnya berpotensi memengaruhi kondisi bangunan. Bangunan apotek tersebut disebut sudah berusia tua dan kondisinya lapuk.
Rangkaian kejadian tersebut menjadi perhatian karena melibatkan keselamatan warga dalam kegiatan yang menggunakan perangkat sound system berukuran besar. Evaluasi terhadap aspek teknis, pengamanan, hingga tanggung jawab penyelenggara dinilai penting agar kegiatan serupa tidak kembali menimbulkan korban.


Komentar Via Facebook :