Keluarga Pasien Meninggal, Keluhkan Penanganan Satgas Covid-19 Kota Banjar yang Dinilai Tak Maksimal

Keluarga Pasien Meninggal, Keluhkan Penanganan Satgas Covid-19 Kota Banjar yang Dinilai Tak Maksimal

CYBER88 | Banjar -- Salah satu warga Linkung Pintusinga Desa Banjar Kecamatan Banjar merasa kecewa dengan penanganan Covid-19 di Kota Banjar. Satgas Covid-19 dinilai tidak maksimal dalam melakukan penanganan kepada keluarganya.

Epit, seorang ibu yang tengah hamil 3 bulan dan dinyatakan terpapar akhirnya meninggal dunia setelah dianjurkan untuk melakukan isolasi mandiri di rumahnya oleh pihak Puskesmas.

Ecin, mertua Epit menceritakan kejadian yang menimpa menantunya itu bermula pada hari senin 28 juni 2021. Saat itu, kata Ecin, Epit Gardini yang sedang mengandung dengan usia 3 bulan merasa mual - mual dan sesak napas.

Epit pun dibawanya ke Puskesmas Banjar 3 bersama suaminya Ucu Suherman. Usai pemeriksaan, berdasarkan hasil tes Antigen Epit dinyatakan positip Covid-19.

“Karena hal tersebut, akhirnya saya dan anak saya pun dilakukan tes Antigen dan hasilnya alhamdulilah negatip, “Terangnya.

Petugas Puskesmas Banjar 3, kata Ecin, menyarankan pasein untuk dirujuk ke RSUD kota banjar.

Kami sekeluarga pun setuju dengan saran tersebut dengan harapan Epit beserta janin dalam kandungannya bisa tertolong dengan bantuan dokter ahli dan oksigen. Karena kami tau, Epit mempunyai riwayat penyakit sesak napas, “Tutur Ecin melanjutkan.

Namun, kata Ecin, Pihak Puskesmas Banjar 3 menginformasikan, bahwa RSUD kota banjar penuh. Sementara puskesmas bukan tempat rawat inap, akhirnya tenaga kesehatan di puskesmas Puskesmas Banjar menganjurkan pasein bisa dibawa pulang dan isolasi mandiri selama 14 hari di rumah.

Ucu suherman, suami Epit, menambahkan, dirinya merasa heran, usai istrinya dinyatakan positif, namun tak difasilitasi dengan pelayannan Covid-19. Meski demikian, Ucu pun membawa pulang istrinya menggunakan sepeda motor.

Tak hanya itu, Ucu merasa bingung saat berada di rumah. Pasalnya, pihak Puskesmas tidak memberikan arahan terkait isolasi mandiri.

“Setau saya, kita harus jaga jarak dengan orang yang  positip Covid 19. Sementara saya bawa istri saya tanpa perlengkapan APD sedikitpun,  “Herannya.

Ucu melanjutkan, “keesokan harinya, tiba - tiba istri saya merasakan kembali sesak napas yang luar biasa. Saya berusaha untuk mencari mobil untuk membawa istri kerumah sakit. Namun nahas, Belum sempat istri dibawa ke RS, Sekitar jam 04.30 wib dia menghembuskan napas terahirnya.

Sekitar satu jam kemudian, datanglah Ambulans dari Puskesmas Banjar 3 yang hanya diisi  bidan dan supir untuk membawa jenazah almarhum ke RSUD.

Tanpa memperdulikan keselamatan, saya beserta orang tua dan saudara akhirnya memangku jenazah yang dinyatakan terpapar ke mobil ambulans.

Kami sekeluarga meresa bingung, kenapa almarhum dijemput hanya membawa satu bidan dan supir ambulans saja.

Bukan nya kalau yang meninggal positip Covid 19 ada petugas khusus yang dilengkapi dengan APD kesehatan? cetusnya.

Jenazah istru Saya pun dibawa ke RSUD banjar, Lalu dimandikan dan dimasukan peti layaknya orang yang positip Covid 19. Setelah beres jenazah pun dibawa menggunakan ambulans dengan petugas yang dilengkapi APD.

Bahkan saat dipemakaman, Semua diharuskan menjaga jarak atau jangan terlalu dekat ke jenazah istri saya.

Saya merasa aneh oleh kejadian yang menimpa almarhum istri saya, Ketika dimakamkan harus seperti ini. Tapi ketika jenazah dijemput dari rumah mau dibawa ke RSUD, hanya satu bidan dan supir ambulans saja yang datang, “Ungkapnya sambil membersihkan air mata kesedihan yang menetes di pipi sebelah kanannya.

Ditempat terpisah, Edi sebagai koordinator satgas covid kota banjar saat dimintai keterangan melalui pesan whatshap mengatakan, untuk penjelasan SOP pelayanan pasein atau masyarakat yang terpapar Covid-19 harus melalui kepala dinas kesehatan atau jurubicara satgas Covid Haji Agus, “Terangnya.

Sementara itu, H.Agus, Satgas Covid Kota Banjar saat dikonfirmasi melalui telepon selulernya menyampaikan, apabila kronologisnya seperti apa yang disampaikan oleh keluarga korban terhadap rekan media, maka disini ada kesalahan atau tidak sesuai dengan standar operasional penanganan Covid 19.

Sampai diturunkannya berita ini, Kepala puskesmas banjar 3 dan kepala dinas kesehatan belum dapat memberikan keterangan. Baik secara lansung ataupun pesan whatshap dan telepon celuler. (Samsu)

Komentar Via Facebook :