Dukung Program Pimpinan TNI-Polri Rekrut Santri, Anton Charliyan Ajak Semua Pihak Mengawalnya
CYBER88 | Tasikmalaya -- TNI Angkatan Darat (TNI AD) resmi membuka lowongan untuk santri dan lintas agama pada 3 Januari 2022. Rekrutmen dibuka untuk calon prajurit dengan pangkat Bintara PK dan Tamtama.
TNI AD menyatakan santri yang mendaftar Bintara PK maupun Tamtama ini gratis 100 persen. Namun, untuk kalangan muslim TNI AD mensyaratkan calon prajurit yang mendaftar harus hafal Alquran.
Pihak Polri pun mengatakan Korps Bhayangkara konsisten membuka rekrutmen anggota Polri yang bersumber dari pesantren, hafiz Alquran, hingga siswa berprestasi dalam ilmu agama lainnya.
Adanya Kebijakan rekrutmen santri sebagai calon anggota TNI dan Polri, khususnya yang di pelopori oleh Kepala Stap Angkatan Darat (KASAD) Jenderal Dudung Abdurachman yang kemudian dikuti oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Menurut Anton Charliyan merupakan satu kebijakan yang sangat tepat dan sangat strategis.
Mantan Kapolda Jabar ini mengatakan, seorang santri, selain dari segi ahlak dan prilakunya baik, wawasan agamisnya juga luas. Apalagi selain santri calon yang akan direkrut juga dari ahli agama lain seperti calon rahib, calon pendeta dll.
Namun ada yang lebih khususnya lagi, yaitu para santri bisa juga nantinya diberdayakan untuk mengantisipasi faham-faham radikalisme dan intoleransi, “Ucap pria yang kerap disapa Abah pada Cyber88.co.id Selasa (7/12/2021)
Faham tersebut, lanjut Abah Anton, saat ini sebagmana kita ketahui bersama, selalu menyusup dibalik Kedok dan jubah Agama. Sehingga, setiap orang yang berusaha melawan gerakan tersebut, dengan mudahnya dikatakan sebagai Anti Agama, Kafir, Murtad, penyembah iblis dll. Bahkan bisa dikategorikan sebagai seorang Musyrik yang darahnya halal dan boleh untuk dibunuh.
“Begitu luar biasanya jika kekuatan agama dijadikan benteng untuk melegalisir kepentingan-kepentingan Politik tertentu Karena dengan jubah agama sesuatu yang asalnya jahatpun bisa menjadi suatu kemulyaan, “Sesal Abah Anton.
“Bunuh diri saja bila dikasih label jihad dan menjadi perbuatan yang mulya, “Imbuhnya.
Abah Anton pun mengungkapkan, mencuri yang merupakan sebuah perbuatan hina dengan label gonimah, bagimereka bisa menjadi baik. Bahkan sampai merampokpun dengan label Fai bisa menjadi sesuatu yang heroik.
Itulah pola-pola yang senantiasa digunakan di berbagai negara lain, “Ujarnya.
Namun sangat disayangkan dari hasil kajian sejarah, history dan exferience yang terjadi di Suriah, Mesir, Afganistan dll, ujungnya ternyata hanya sebuah ambisi untuk meraih tampuk Kekuasaan, “Katanya.
Berbicara tentang Intoleransi dan Radikalisme sebagaimana kita maklumi bersama, sesungguhnya yang paling berat adalah bagaimana cara memerangi dan mematahkan Mindset, faham dan iedologi-ideologi yang sudah tertanam kuat pada individu kader-kader mereka yang sudah terlanjur terpapar dengan menggunakan Dogma Agama sebagai alat masuknya,
Karena melalui Agama maka antisipasinya pun, kita harus mampu merekrut calon anggota yang memang akhli dalam bidang agama. Dalam hal ini, yang paling tepat, tentu saja dengan merekrut sebanyak banyaknya para Santri, serta calon-calon Agamawan yang lain, yang betul-betul Nasionalis, “Beber Abah Anton.
Lebih lanjut Anton menuturkan, kebijakan dan program ini sesungguhnya sudah pernah dilakukan dirinya ketika jadi Kapowil Priangan pada thn 2009. ketika itu, katanya, banyak Santri yang masuk menjadi anggota Bintara Polri dengan pola Talent Scouting (masuk di pola dilatih secara khusus dan masuk tanpa test yg begitu panjang, namun tetap melalui prosedur yg ditentukan).
Kemudian pada saat jadi Kapolda jabarpun pada tahun 2017 sudah diajukan talent scouting untuk Santri dan calon-calon anggota yangg berprestasi di bidang olah raga atau seni yang bertaraf nasional atau international.
Namun tiba-tiba kebijakan tersebut tidak bisa dilaksanakan dan dipending Mabes Polri. Bahkan rekrutment di Jabar seakan dibikin Kisruh dengan adanya orang yang menjual nama Kapolda untuk kepentingan pribadinya.
Yang akhirnya, bahkan kewenangan untuk merekrut calon anggota Polri, khusus di Polda jabar diambil alih Mabes Polri, “Tuturnya.
Tapi titik beratnya, menurut Anton, bukan hal tersebut. Justru kemungkinan besar untuk menggagalkan rekruitmen talent Scouring para Santri tersebut. Padahal Kapolda jabar sendiri saat itu sudah warning dan sosialisasi ke Pesantren-pesantren.
Rupanya kalau baru setingkat Kapolda kekuatannya masih bisa diintervensi oleh power yang lebih kuat, sehingga dengan segala cara akhirnya Program tersebut tidak terwujud. Ini menunjukan bahwa kekuatan politik gol intoleransi tersebut sudah begitu besar, “Ucapnya.
Mantan Kadiv Humas Polri ini mengajak semua pihak untuk waspadai dan program ini bisa dikawal dengan seksama. Karena, tidak menutup kemungkinan faham dan pengaruh elit politik pendukung intoleransi dan radikalisme tersebut sudah masuk juga di tubuh TNI dan POLRI.
Bahkan salah satu kebijakan Kapolda Jabar saat itu berupa Penataran singkat selama kurang lebih 3 hari di Alam terbuka, tentang wawasan anti intoleransi dan radikalisme yg dikenal sbg program Sawala Kebangsaan Polda jabar, dari Rencana 12 Kali kegiatan Penataran khusus untuk elemen-elemen dan tokoh-tokoh masyarakat, baru 3 kali saja dilaksanakan dibikin Kisruh juga dengan segala alasan yangg dibuat-buat agar ditunda sementara kegiatanya.
Ini untuk kedua kalinya mereka menunjukan powernya, agar apapun bentuk-bentuk kegiatan yang dianggap akan melawan gerakan Intoleransi dan radikalisme harus dihentikan sesegera mungkin.
Tapi jika gerakan kali ini sudah didukung Penuh dengan full Power oleh Pimpinan TNI dan Polri, yakni Kapolri, KASAD dan Panglima TNI, kami yakin akan berjalan mulus, dan mereka pun akan berpikir seribu kali untuk bisa menghalangi dan menggagalkannya, “Papar Anton.
Maka dari itu ketika di konfirmasi awak Media Anton charliyan yg pernah jadi Kapolwil priangan thn 2009 dan Kapolda jabar thn 2017 ini,
Pada awa kmedia, Pria yang kini banyak bergelut di Budaya ini menyatakan dirinya sangat mendukung program tersebut dengan 2 jempol ditangan. Dengan syarat yang direkrut harus betul Santri yang 100% Nasionalis tulen, serta jika memungkinkan dibuat secara kontinue tiap tahun tetap ada. Sehingga ada kesinambungan program.
Jangan sampai begitu Jendral Dudung Lengser otomatis nanti programnya pun ikut hanyut entah kemana. Maka dari itu program tersebut harus dijadikan Program Rutin yang tetap, baik di TNI Maupun di Polri,
“Insya Allah dengan adanya Program tersebut faham-faham Intoleransi dan Radikalisme sedikit demi sedikit akan mulai terkikis di NKRI tercinta ini, “Harapnya.
Untuk itu, saya juga mohon dukungan moralnya kepada para tokoh Ulama, Akademisi, para tokoh masyarakat dan pakar yang lain untuk ikut juga mendukung Program strategis yang sudah dilontarkan oleh Pimp TNI dan Polri.
Karena sepertinya program ini, seperti kecil dan sederhana tapi Jika tidak betul-betul dikawal, bisa saja tiba-tiba lenyap ditengah jalan. Saya bisa bicara begini karena saya pernah mengalaminya sendiri langsung, " Begitu pungkas Abah Anton menutup Pembicaraanya. (samsu)


Komentar Via Facebook :