Tim SAR Operasi Gabungan: Longboat yang Hilang di Kepulauan Ayau Diduga Kuat Terseret Arus ke Perairan Halmahera
Tim SAR Operasi Gabungan Pencarian Longboat bermuatan empat orang yang hilang di perairan Kepulauan Ayau, Raja Ampat bersama keluarga korban lakukan konferensi pers,Rabu (20/7) Foto: (Awin Cyber88.co.id)
CYBER88 | Raja Ampat -- Satu unit perahu longboat bermuatan empat orang yang bertolak dari Kota Waisai, Raja Ampat, Papua Barat menuju Distrik kepulaun Ayau telah dikabarkan hilang pada tanggal 29 Juni, beberapa pekan lalu.
Hilangnya perahu Longboat itu diduga karena dipicu cuaca dan kondisi arus gelombang yang ekstrim yang terjadi pada bebrapa pekan lalu di sekitar perairan Kepulaun Ayau, Raja Ampat.
Tim SAR operasi gabungan pencarian korban yang terdiri dari Anggota Rescue Pos Waisai dan Satpolair, Polres Raja Ampat menyatakan, para korban diduga terseret arus hingga ke perairan Halmahera. Dugaan ini mengacu pada pemetaan yang dilakukan oleh otoritas terkait
di tempat kejadian perkara (TKP).
Dugaan para korban terseret ke perairan Halmahera, Provinsi Maluku Utara tersebut juga didukung dengan titik lokus atau Tempat Kejadian Perkara (TKP) berdekatan dengan perairan Halmahera Provinsi Maluku Utara.
Terkait dengan insiden itu, Tim SAR Operasi Gabungan pencarian para korban tenggelamnya perahu Longboat tersebut menggelar konferensi Pers di Kantor Bupati Raja Ampat, Rabu (20/7/2022).
Kasat Polairut Polres Raja Ampat, Iptu Broery, dalam keterangannya menegaskan, bahwa proses pencarian para korban dihentikan untuk sementara dan akan dilanjutkan kembali apabila ada tanda-tanda yang menujukan posisi keberadaan para korban.
Berdasarkan pada Standard Operasional Prosedur (SOP), bahwa pencarian bisa dihentikan apabila operasi pencarian yang dilakukan selama 7 (Tuju) hari tidak menemui hasil (Nihil). Broery juga menegaskan, bahwa upaya koordinasi tetap dilakukan di lintas sektor dan juga kepada keluarga korban.
"Kami melakukan pencarian selama 5 hari. Terhitung dari tanggal 4 sampai tanggal 7. ada aturan juga menegaskan, apabila dalam pencarian yang dilakukan selama 7 hari tidak menemui hasil, maka pencarian sementara dihentikan sambil menunggu perkembangan dan informasi di lapangan". Jelas Broery.
Dijelaskan, Tim SAR gabungan melakukan pencarian pada tanggal 4 hingga tanggal 7 juni, namun tidak menemui tanda-tanda keberadaan Perahu yang hilang. Setelah itu pencarian dilakukan kembali pada tanggal 16 hingga 17 juni, namun belum juga menemui hasil.
Kaitanya dengan insiden hilangnya perahu tersebut, Pihak BASARNAS Pos Raja Ampat menyatakan akan melakukan komunikasi dan koordinasi. Selain mengumpulkan informasi di lapangan, Pihak BASARNAS juga kan melakukan koordinasi di lintas Provinsi, karena diduga kuat, perahu yang hilang itu memasuki wilayah perairan Halmahera, maluku utara.
Untuk diketahui, perahu yang dinyatakan hilang tersebut berangkat dari kota waisai pada tanggal 29 juni dengan tujuan kampung (desa) Dorekar, Distrik Kepulauan Ayau. Namun, hingga pada tanggal 4 juni, Perahu yang bermuatan empat orang itu belum juga sampai ke tempat tujuan. Padahal, perjalanan melintasi lautan dari Waisai ke Kampung Dorekar hanya memakan waktu sekitar 6 jam.
Pihak Basarnas baru menerima laporan pada tanggal 4 juni. Usai mendapat laporan, Pihak Basarbas dan Polairut Polres Raja Ampat melakukan koordinasi dengan pihak terkait dan langsung meninjau TKP untuk melakukan pencarian para korban.
Empat orang yang dinyatakan hilang tersebut terdiri dari dua orang dewasa dan dua orang anak laki-laki. Dua orang dewasa tersebut adalah, Stenly Bastian Burdam dan Soldam Sauyai. Sementara dua orang anak tersebut adalah Ametusala dan Panos Burdam.
Stenly Bastian Burdam dan Soldam Sauyai merupakan pegawai di Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Upaya pencarian para korban akan kembali dilakukan, apabila terdapat tanda-tanda yang mengarah pada keberadaan para korban dan perahu yang ditumpangi para korban.(A.M)


Komentar Via Facebook :