183 Kasus Stunting di Kecamatan Cilegon Ditanggapi Serius
CYBER88 | Cilegon – Sebanyak 183 kasus stunting (gizi buruk) di Kecamatan Cilegon mendapat tanggapan serius dari pihak kecamatan dan Dinas Sosial Kota Cilegon, Jumat (2/9). Pasalnya, angka tersebut dinilai cukup besar.
Kecamatan Cilegon mengundang 100 dari 250 Kader PKK dari tiap kelurahan untuk mengadakan aksi dalam menindaklanjuti kasus ini. Rapat Kegiatan Rembuk Stunting berlangsung di Aula Kantor Kecamatan Cilegon dengan menghadirkan langsung Dinas Sosial Kecamatan Cilegon yang ditangani langsung Kabid Kebencanaan dan Tagana Kota Cilegon
Pada rapat teknis tersebut, dibahas terkait pola kerja dan sasaran pembagian bantuan di tiap kelurahan yang akan dimulai sejak Senin (5/9) depan. Dari 5 kelurahan, yakni Ketileng, Bendungan, Bagendung, Ciwaduk, dan Ciwedus, wilayah Kelurahan Ketileng tidak ditemui kasus stunting, atau berhasil mencapai zero stunting.
Oleh karenanya para kader dari Kelurahan Ketileng diberikan tugas packaging (pengepakan), kemudian dari 4 kecamatan lainnya ditugaskan untuk delivery (pengiriman) agar pembagian lebih tepat sasaran. Kemudian untuk memasak, dari tiap kader kelurahan, ditugaskan 3 orang per kelurahan setiap harinya.
Maman Herman selaku Camat Cilegon menjelaskan, gagasan ini dimulai sejak DP3AKB melakukan kunjungan untuk melakukan sosialisasi stunting sebagai target pemerintah daerah maupun pusat yang perlu mendapat tanggapan serius.
Dikarenakan sosialisasi stunting tidak dapat berdampak secara langsung, maka perlu dilakukan selama berbulan-bulan. Sehingga, camat menugaskan para kader melakukan pendataan bersama Puskesmas dengan metode by name by address, dan didapatkan data stunting sebanyak 183 jiwa.
Dari angka tersebut, menurut camat, Pemerintah Daerah menargetkan minimal 30% atau sekitar 50 kasus dapat terselesaikan. Maka, Dinas Sosial melalui Bidang Kebencanaan menerjunkan unit Mobil Dapur Umum, kemudian Kementerian Sosial meminjamkan tenda, juga Dinas Sosial meminjamkan mobil.
Kebutuhan lain yang diperlukan, seperti bahan masakan dan lainnya, Kecamatan Cilegon mendatangi donatur dan berkoordinasi dengan sponsor dengan membuat proposal yang sistematis dan akurat termasuk kepada Dinas Kesehatan dan DP3AKB. Kemudian para donatur diundang untuk dilibatkan langsung sebagai bentuk transparansi dan supaya bantuan tidak hanya bersifat sesaat, namun berkelanjutan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kasus stunting di Kecamatan Cilegon sendiri yakni ekonomi, pengetahuan, serta pola asuh. Adapun 2 hal yang menjadi faktor utamanya yakni ekonomi dan pola asuh terhadap anak.
Kepala Bidang Kebencanaan Kota Cilegon, CM Dendras didampingi Waway mengatakan, "Kegiatan ini merupakan sinergi program antara Kecamatan Cilegon dengan Dinas Sosial Kota Cilegon. Adapun dapur umum dan (program) Lumbung dapat dimanfaatkan untuk men-support selama program (yang diajukan) sesuai dengan program yang ada."
Samsuri, Ketua KSB (Kampung Siaga Bencana) Kecamatan Cilegon menyebut, kegiatan KSB sendiri membantu masyarakat yang terkena musibah. Namun, stunting berbeda. Akan tetapi, KSB memiliki salah satu program yakni “Lumbung Sosial” terkait logistik. Dengan begitu, logistik yang ada dapat digunakan untuk permasalahan stunting saat ini.
Meski KSB lebih difungsikan bagi bencana alam seperti banjir, kebakaran, dan angin puting beliung, namun kasus stunting ini, menurut Samsuri, juga bisa dikategorikan sebagai bencana sosial.


Komentar Via Facebook :