Tanpa Andalkan SDA, Pemerintah Cimahi Bangun Ekonomi Kota Lewat UMKM
CYBER88 || KOTA CIMAHI – Keterbatasan sumber daya alam tidak menjadi penghalang bagi Kota Cimahi untuk menggerakkan perekonomian daerah. Pemerintah Kota Cimahi justru menjadikan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai strategi utama pembangunan ekonomi perkotaan, dengan menempatkan manusia dan kreativitas sebagai modal paling berharga.
Berbeda dengan daerah yang bertumpu pada sektor tambang atau perkebunan, Cimahi memilih jalur ekonomi berbasis produktivitas warga. UMKM diposisikan sebagai sektor unggulan karena dinilai paling adaptif terhadap karakter kota yang padat penduduk dan minim lahan.
Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, mengatakan hingga kini terdapat sekitar 5.000 sampai 6.000 pelaku UMKM yang aktif dan dibina oleh pemerintah daerah. Jumlah tersebut menunjukkan besarnya kontribusi UMKM dalam menopang ekonomi kota, sekaligus menjadi penggerak utama aktivitas ekonomi di tingkat masyarakat. “UMKM adalah kekuatan utama kita. Kota Cimahi tidak memiliki kekayaan alam, tapi memiliki sumber daya manusia yang kreatif dan produktif,” ujar Ngatiyana.
Menurutnya, UMKM berkembang di berbagai sektor, mulai dari kuliner, fesyen, hingga kerajinan. Keragaman ini memungkinkan UMKM menjangkau pasar yang luas serta menciptakan peluang kerja baru, terutama bagi masyarakat perkotaan yang kesulitan mengakses lapangan kerja formal.
Pemerintah Kota Cimahi memandang UMKM bukan sekadar usaha skala kecil, melainkan instrumen penting dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah. Saat sektor lain rentan terhadap gejolak ekonomi, UMKM justru terbukti lebih tangguh dan cepat beradaptasi.
Ngatiyana menegaskan, penguatan UMKM harus dilakukan secara terencana dan berkelanjutan. Oleh karena itu, pemerintah daerah terus mendorong kolaborasi dengan dunia pendidikan, khususnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan sejak dini.
Peran generasi muda dinilai krusial dalam menciptakan UMKM yang inovatif dan berorientasi pasar. Sejumlah wilayah seperti Citeureup dan Cibeber kini mulai muncul sebagai kantong UMKM muda dengan produk yang beragam dan berdaya saing.
Selain kuliner, sektor kerajinan juga diproyeksikan sebagai identitas ekonomi daerah. Batik khas Cimahi dengan motif lokal menjadi salah satu contoh produk yang tidak hanya mencerminkan budaya daerah, tetapi juga memiliki nilai jual tinggi.
Untuk mendorong UMKM naik kelas, Pemkot Cimahi memberikan kemudahan perizinan, pendampingan desain dan kemasan, hingga fasilitasi akses pemasaran dan ekspor. Kebijakan ini diharapkan mampu membuka peluang pasar yang lebih luas bagi produk-produk lokal. “Beberapa UMKM Cimahi sudah berhasil menembus pasar ekspor. Ini menunjukkan bahwa dengan pendampingan yang tepat, produk lokal kita mampu bersaing,” kata Ngatiyana.
Ke depan, UMKM diproyeksikan tetap menjadi tulang punggung ekonomi Cimahi. Dengan mengoptimalkan kualitas sumber daya manusia dan dukungan kebijakan yang konsisten, Cimahi berupaya membangun ekonomi yang mandiri dan berkelanjutan, meski tanpa sokongan sumber daya alam. (Dip)


Komentar Via Facebook :