Dapur MBG Berbasis Pesantren, Pengelola Berikan Klarifikasi Terkait Lokasi dan Latar Belakang Program
CYBER88 | Klaten – Pengelola dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) berbasis pesantren di wilayah Karanganom memberikan klarifikasi terkait pemberitaan mengenai keberadaan dapur MBG yang sebelumnya tayang pada Kamis, 28 Agustus 2026.
Sidik Anshori, pengurus yayasan pengelola pesantren, menyampaikan bahwa keberadaan dapur MBG tersebut berawal dari keresahan orang tua atau wali santri yang saat itu memperoleh informasi mengenai isu kehalalan ompreng MBG yang disebut mengandung unsur minyak babi.
“Orang tua santri berharap pengelola pesantren dapat mendirikan dapur MBG sendiri, sehingga aspek halal dan thoyib dalam penyediaan makanan bagi para santri dapat lebih terjaga,” ujar Sidik Anshori kepada awak media.
Menurutnya, setelah menerima aspirasi tersebut, pihak pengelola pesantren kemudian mencari yayasan mitra Badan Gizi Nasional (BGN) yang menawarkan kerja sama dalam program dapur MBG khusus pesantren.
Dalam kerja sama tersebut, salah satu persyaratan yang ditetapkan adalah lokasi dapur MBG harus berada di lingkungan pesantren. Namun, kondisi pesantren yang dikelola yayasan saat ini masih tersebar di beberapa titik asrama, bahkan sebagian masih menggunakan rumah warga yang disewa.
“Untuk lokasi yang memenuhi persyaratan, satu-satunya asrama pesantren yang dibangun yayasan berada di sekitar Kelurahan Karanganom. Di lokasi tersebut terdapat kompleks asrama, dapur dan tempat ibadah yang sebelumnya digunakan untuk kegiatan internal santri,” jelasnya.
Setelah dilakukan survei oleh yayasan mitra BGN, lokasi tersebut kemudian dinyatakan memenuhi persyaratan untuk pembangunan dapur MBG.
Sidik menjelaskan, sebelum dapur MBG digunakan, beberapa santri yang sebelumnya tinggal di kompleks tersebut telah dipindahkan ke asrama lain yang diberikan secara gratis oleh masyarakat untuk jangka waktu lima tahun.
Dengan kondisi tersebut, kompleks asrama yang di dalamnya terdapat dapur dan tempat ibadah kemudian dioptimalkan untuk mendukung kegiatan operasional dapur MBG berbasis pesantren.
Lebih lanjut, pengelola yayasan juga memastikan bahwa pembangunan fasilitas pesantren baru tetap menjadi perhatian. Pihak yayasan telah mengurus perizinan untuk pembangunan asrama santri dan tempat ibadah yang lebih representatif bagi kegiatan para santri.
Lokasi pembangunan tersebut berada sekitar 10 meter dari kompleks asrama yang saat ini digunakan sebagai dapur MBG. Namun, kedua lokasi tersebut dipisahkan oleh aliran sungai sehingga membutuhkan akses berupa jembatan.
“Proses perizinannya memang membutuhkan waktu karena kami juga harus mengurus izin pembangunan jembatan. Alhamdulillah, izin dari DPU sudah kami dapatkan,” katanya.
Menurut Sidik, pembangunan jembatan tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung akses menuju lokasi baru yang nantinya akan digunakan sebagai asrama santri dan tempat ibadah.
Ia berharap seluruh proses pembangunan dapat berjalan lancar dan mendapat dukungan dari berbagai pihak.
“Kami mohon doa dari semua pihak, semoga pembangunan jembatan, asrama santri dan tempat ibadah di lokasi yang baru dan lebih representatif ini dimudahkan serta dapat berjalan dengan lancar,” pungkasnya.


Komentar Via Facebook :