Aktivis DPD JAMAN: Dugaan Selewengkan Ratusan Miliar Dana APBN, Proyek Rekontruksi dan Penanganan Lereng di Kebun Kopi Palu Tidak Sesuai Spek
CYBER88 | Palu - Ruas jalan nasional Tawaili - Nupabomba - Kebun Kopi - Toboli memiliki panjang sekitar 40 kilo meter di provinsi Sulawesi Tengah diketahui setiap tahun menelan anggaran APBN mencapai ratusan miliar rupiah. Senin, (24/05/21).
Untuk TA. 2017, paket MYC sebesar Rp.123, 2 M di kerjakan oleh PT. Wasco SP - KSO, sementara TA. 2018 masih dengan kegiatan yang sama kembali ruas tersebut di alokasikan APBN sebesar Rp.74,7 M dan dikerjakan oleh PT. Tunggal Mandiri Jaya.
Baca juga : Ruas Jalan Penghubung Kebun Kopi di Sulawesi Tengah Longsor, Akibatkan Macet Selama Enam Jam
Proyek di ruas yang sama masih dengan kegiatan yang sama, kembali negara mengalokasikan APBN dengan total Rp.302,8 M yang terbagi pada empat paket kontrak.
Yaitu PT. Kurnia Mulia Mandiri dengan nilai kontrak Rp.34 M, PT. Istika Karya (Persero) dengan nilai kontrak sebesar Rp.122 M, PT. Bumi Duta Persada mengerjakan paket kontrak senilai Rp.111,8 miliar dan PT. DDBrother Construction dengan kontrak senilai Rp.35 miliar.
Dari keseluruhan paket kontrak tersebut terhitung dari tahun anggaran 2017 sampai di 2019, anggaran APBN di gelontorkan sebesar Rp.500,7 miliar yang melekat pada Kementerian PUPR Dirjen Bina Marga Bala Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Satuan Kerja Wilayah II Sulawesi Tengah.
Hasil investigasi media ini, dari enam paket kontrak pekerjaan rekonstruksi dan penanganan lereng di ruas Tawaili - Nupabomba - Kebun Kopi - Tawaili hampir setiap titik terdapat kerusakan berat di sepanjang lokasi proyek.
Kuat dugaan proyek tersebut di kerjakan tidak sesuai spek, karena jaring-jaring yang semestinya berfungsi sebagai penahan gerusan material, ternyata justru amblas terbawah material.
Rifaldi M.SH salah satu aktivis Sulteng yang juga ketua Dewa Pimpinan Daerah Jaringan Kemandirian Nasional (DPD JAMAN) ketika di temui di kota Palu pada dini hari Senin (24/05/21) meminta menangani dengan serius polemik pemeliharaan ruas jalan kebun kopi.
"Iya kita semua mengetahui bagaimana ruas kebun kopi hanya 40 kilo meter, namun biaya pemeliharaannya cukup menyedot APBN, betapa tidak dalam kurun waktu tiga tahun (2017, 2018 dan 2019) sekitar setengah triliun lebih APBN kita di gelontorkan di ruas tersebut," sahut Rifaldi.
Sementara ruas Kebun Kopi tersebut masih sering terjadi longsor dan bahkan sampai merenggut nyawa pengguna jalan.
Oleh karena itu diminta disikapi dengan serius karena proyek Kebun Kopi telah menjadi isu nasional, namun belum ada tanda-tanda aparat penegak hukum di propinsi Sulteng terdengar mengambil langkah hukum.
Untuk melakukan upaya penyelidikan, hal yang sama juga diminta kepada Badan Pemeriksa Keuangan Provinsi (BPKP) Sulteng, karena BPKP juga belum melakukan tugas dan tupoksinya untuk melakukan audit investigasi terkait pelaksanaan APBN pada proyek di Kebun Kopi.
"Memang kami telah mencium ada aroma kurang sedap dana pada proyek di Kebun Kopi, serta ada dugaan penyelewengan dana anggaran APBN dan konspirasi besar-besaran dalam proses pelaksanaan dan pembayaran pada proyek-proyek tersebut. Tentunya hal ini tidak bisa di biarkan begitu saja, dalam waktu dekat kami akan berkoordinasi dengan pimpinan DPP Jaman Pusat, guna menentukan sikap, agar dugaan penyimpangan pada proyek tersebut bisa di proses hukum," lanjut Rifaldi.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Aji Giri Luhur Pribadi.ST ketika di konfirmasi via WhatsApp tidak pernah mau membalas pertanyaan yang diajukan oleh wartawan cyber88.co.id
Kepala Tata Usaha (KTU) PPK ruas Kebun kopi Darwis ketika di konfirmasi via telepon seluler dini hari tadi mengatakan bahwa memang benar dari 6 (enam) paket ada 4 (empat) paket yang di kerjakan oleh kontraktor lokal Sulteng.
"Ya benar 4 paket yang dikerjakan dan mengenai proses pembayaran kami tidak mengetahui karena KTU sebelumnya di masa proyek tersebut pejabat PPK saat ini pak Aji Giri," ungkap Daris secara singkat dan langsung mematikan ponselnya.
Satker PJN Wilayah II Sulteng Agustinus Junianto.ST ketika di konfirmasi melalui pesan WhatsApp pada dini hari (24/05) menyampaikan permohonan maaf.
"Mohon maaf pak, kami lagi berada di luar kota Palu, boleh tau terkait apa yang hendak mau di konfirmasi," tanya Agustinus.
Namun saat wartawan media ini bertanya terkait kelanjutan proyek di ruas Kebun Kopi, Agustinus terkesan menghindar. (Red)


Komentar Via Facebook :