Proyek Ruas Kebun Kopi Kembali Alami longsor, BPJN XIV Palu Terkesan Tutup Mulut

Proyek Ruas Kebun Kopi Kembali Alami longsor, BPJN XIV Palu Terkesan Tutup Mulut

CYBER88 | Donggala - Tingginya curah hujan di Provinsi Sulawesi Tengah, kembali jalan Nasional ruas Tawaili-Kebun Kopi-Toboli yang menghubungkan Kota Palu Kabupaten Donggala dan Kabupaten Parigi Moutong Provinsi Sulawesi Tengah sering terjadi longsor yang bisa mengancam setiap pengguna jalan tersebut.

Seperti halnya pada Jum'at 10/9/2021 kemaren tepatnya di jembatan Uwentira sekitar km 32 dan di km 44 telah terjadi longsor tepatnya di titik hasil pekerjaan rekontruksi dan pengamanan lereng Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) XIV Palu.

Baca juga : Pejabat PUPR dan BPJN Sulteng Cuci Tangan Terkait Proyek Lereng Kebun Kopi

Sejumlah material longsor tanah, batu dan kawat pengaman tebing menutupi badan jalan yang mengakibatkan sejumlah kendaraan tidak bisa melintas, sembari menunggu pihak BPJN membersihkan material tersebut. Senin, (13/9/21)

Berdasarkan data dari berbagai sumber, ruas jalan Tawaili Kebun Kopi-Toboli sejak tahun 2017 sampai dengan 2021 ratusan miliar anggaran APBN di gelontorkan pada ruas tersebut, pada tahun 2017 sebesar Rp.197,900.000.000,  yang terbagi pada dua paket dengan sistem kontrak jamak (2017-2018) di antaranya PT.Wasco SP-KSO dengan nilai kontrak sebesar Rp.123,200.000.000,- sementara PT.Tunggal Mandiri Jaya (TMJ) dengann nilai kontrak sebesar Rp.74,700.000.000,-

Pada tahun 2019 kembali APBN melalui Kementerian PUPR Dirjen Bina Marga Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Sulteng kembali di gelontorkan dana sebesar Rp.302,800.000.000,- untuk pekerjaan rekontruksi dan pengamanan lereng kebun kopi,anggaran tersebut terbagi pada empat kontrak di antaranya : PT.Kurnia Mulia Mandiri mengerjakan anggaran sebesar Rp.34,000.000.000, PT. Istika Karya (Persero) mengerjakan paket senilai Rp.122,000.000.000,- PT.Bumi Duta Persada mengerjakan anggaran sebesar Rp.111,800.000.000,- dan PT.DD Brother Countruction mengerjakan paket dengan nilai kontrak sebesar Rp.35,000.000.000,- Keempat paket tersebut merupakan paket kontrak Multiyears.

Pantauan media ini pada Jumat (10/9/21) di lokasi, kuat dugaan terjadinya longsoran di salah satu titik Proyek Rekontruksi Pengamanan Tebing itu, diduga akibat paket tersebut di kerjakan tidak sesuai spek, hal itu terlihat di lokasi longsoran, yang mana hasil pekerjaan yang tidak menggunakan pen pengancing jaring (besi ulir) semuanya terjun bebas (longsor) dan sejumlah material tanah, batu dan kawat serta jaring menutupi badan jalan,yang mengakibatkan di titik lokasi longsor beberapa jam tidak bisa di lewati kenderaan. Sementara hasil pekerjaan pengamanan tebing yang menggunakan pen pengancing jaring (besi ulir) sama sekali tidak tergerus/longsor.

Sala satu pengguna jalan yang meminta identitasnya di rahasiakan ketika di mintai tanggapannya pada saat menuggu antrian pembersihan tumpukan material di badan jalan, mengatakan, "ini bukti nyata yang kita liat langsung,itu kawat dan jaring yang di pakaikan pen pengancing, sama sekali tidak bergerak, karena kuat dugaan desain pekerjaannya seperti itu, tapi coba liat yang tidak di pakaikan pen pengancing, kesemuanya ambruk (longsor) dan kalau tidak keliru besi ulir yang di pasang itu semestinya berukuran ½ inch dengan kedalaman sekitar 4 meter dan jarak setiap pen itu sekitar 2 m x 2 m, bisa kita bayangkan berapa anggaran pembelian besi ulir dan biaya pemasangan sepanjang ruas ini yang di duga tidak di lakukan pemasangan pen tersebut.

Lanjut kata sumber, yang ternyata sarjana teknik (ST) itu, kalau melihat dari hasil pekerjaan yang ada di setiap titik, kuat dugaan pekerjaan tersebut di kerjakan tidak sesuai spek dan di duga kuat tidak selesai di kerjakan sesuai kontrak, pasalnya banyak jaring yang berserakan dan tidak selesai pemasangannya. Suatu keanehan pada Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan satker yang menangani paket ini,terkhusus kepala Balai pelaksana Jalan Nasional (BPJN) XIV Palu Sulteng yang terkesan tidak melakukan evaluasi pada setiap paket yang terlihat sangat jelas dugaan kebobrokannya. Ketika kita mau berharap adanya tanggung jawab pihak kontraktor di masa pemeliharaan,hal itu sama halnya kita berharap sesuatu yang tidak akan perna terjadi, karna di duga kontraknya saja tidak selesai di kerjakan apa lagi mau lakukan pemeliharaan. 

Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) XIV Palu terkesan tutup mulut ketika di konfirmasi terkait longsoran di ruas kebun kopi, seperti halnya Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Aji Giri Luhur Pribadi.ST terkesan menghindar untuk di konfirmasi.

Pasalnya pesan konfirmasi via WhatsApp tidak terbaca karena kontak wartawan media ini telah di blokir, sementara Kepala Satuan Kerja Agustinus Junianto.ST pesan konfirmasi terlihat contreng dua namun tidak memberikan tanggapan, hal yang sama juga pada Kepala Balai BPJN XIV Palu Sulawesi Tengah Muhammad Syukur.ST.MM, sampai berita ini di turunkan belum membuka pesan konfirmasi yang di kirimkan via WhatsApp pada Senin (13/9/21) sekitar pukul 15.22 WITA. 

Komentar Via Facebook :