Warga Menyoal Klinik Pelopor Maju Mandiri, Musnahkan Limbah B3 Hanya Dibakar di Belakang Gedung, Pemilik Akui Hal ini

Warga Menyoal Klinik Pelopor Maju Mandiri, Musnahkan Limbah B3 Hanya Dibakar di Belakang Gedung, Pemilik Akui Hal ini

CYBER88 | Ciamis -- Persoalan limbah bahan beracun dan berbahaya (B3) merupakan hal sensitif. Pengelolaan limbah B3 yang sesuai aturan dan benar merupakan hal penting harus diterapkan industri atau kegiatan usaha lainnya agar tidak mencemari dan merusak lingkungan. Pengelolaan limbah B3 yang tidak sesuai maka berakibat fatal terhadap lingukngan serta nyawa manusia.

Pasca pengesahan Undang-Undang Cipta Kerja terjadi perubahan sejumlah regulasi, yang bahkan secara khusus tersentralisasi ke pemerintah pusat. Salah satu yang cukup krusial adalah ketentuan terkait lingkungan, seperti pengelolaan limbah Bahan Beracun dan Berbahaya (B3).

Dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja berdampak terhadap pengaturan pengelolaan limbah B3 bagi entitas bisnis. UU tersebut kemudian diturunkan salah satunya dalam Peraturan Pemerintah (PP) No.5 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko. Aturan tersebut sekaligus mencabut PP 24/2018 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Terintegrasi Berbasis Elektronik (OSS).

Ketentuan pengelolaan limbah B3 pada Pasal 39 PP 5/2021. Dalam aturan tersebut terdapat empat kategori pengelolaan limbah B3 yaitu pengumpulan, pemanfaatan, pengolahan dan penimbunan. 

Pengelolaan limbah B3 bersifat wajib. Jika pihak penghasil limbah belum mampu mengelola, ia harus menyerahkan atau mencari pihak ketiga untuk menjalankan kewajiban tersebut.  

Ada konsekuensi yang harus diterima pelaku usaha apabila tak mengelola Limbah B3 dengan benar dan berdampak terhadap pencemaran lingkungan yakni, dipidana penjara dan denda.

Peraturan ini sendiri bersifat internasional dan telah diakomodasi dalam Peraturan Menteri LHK No. 3 Tahun 2021 dan Peraturan Menteri LHK No. 6 Tahun 2021. 

Sayangnya, detail-detail ini jarang diketahui banyak orang, sehingga sebagian besar praktik pengelolaan limbah melibatkan perorangan. Bahkan ada juga yang dilakukan sendiri meski tak mampu mengelolanya dengan benar. Mereka memusnahkan limbah B3 dengan sembarangan.

Seperti di temukan Cyber88.co.id di wilayah RT 04, RW 02, Dusun Cigorowong, Desa Pasirtamiang, Kecamatan Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Sebuah klinik bernama “Pelopor Maju Mandiri” memusnahkan limbah B3 hanya dengan dibakar.

Salah satu warga sekitar mengungkapkan, Limbah B3 tersebut dibakar di belakang Klinik Pelopor Maju Mandiri. Hal tersebut, sambung dia, Nampak dari sisa pembakaran yang ada di area tersebut.

Menurutnya, limbah B3 yang merupakan sisa usaha dibidang kesehatan seharusnya dikelola dengan baik. Pasalnya, limbah B3 merupakan limbah beracun yang berbahaya dan telah diatur tata cara pengelolaan sesuai dengan peraturan yang sudah ditentukan oleh pemerintah.

“Seharusnya mereka lebih tau tentang tata cara pengelolaan limbah B3 yang baik seperti apa. Apalagi pemilik klinik pelopor maju Mandiri merupakan salah seorang PNS yang bekerja  Puskesmas Cihaurbeuti, ” Cetusnya.

Maka demikian, sebagai warga sekitar yang tentunya akan kena dampak, dia berharap hal tersebut dapat menjadi perhatian yang serius dan adanya tindakan secara cepat, baik dari DPRKPLH ataupun aparat penegak hukum karena kegiatan tersebut sudah lama dilakukan.

“Sekalipun ancaman pidana dan denda,” Ujarnya.


Sebagai masyarakat yang mempunyai Peran serta dalam pengelolaan lingkungan hidup dan memiliki hak atas lingkungan hidup, .dia mengaku kesal dengan ulah para pelaku usaha di bisang kesehatan yang seperti tidak perduli terhadap lingkungan. Kejadian pengelolaan limbah B3 dengan cara dibakar yang terjadi di Kabupaten Ciamis bukan kali ini saja dan pernah terjadi juga di tempat yang lain.


Sementara itu, Yudi, Pemilik Klinik Pelopor Maju Mandiri mengaku adanya pembakaran Limbah B3 di belakang Klinik. Hal itu dilakukan lantaran adanya keterlambatan pengambilan dari rekanan pihak ketiga meski pihaknya sudah ada MoU dengan PT Angga.

“Makanya saya punya inisiatif, bekas kasa, selang infusan, botol obat - obatan yang kecil dibakar dibelakang Klinik,” Ungkapnya saat dikonfirmasi Cyber88.co.id, Kamis (5/1/2023)

Disinggung soal pengelolaan limbah cair dari klinik tersebut seperti apa. Yudi mengaku, untuk limbah cair ditampung di septi tank

Sementara limbah cair saya tampung di septi tank, yang nantinya akan diangkut dikala sudah penuh. Yang menjadi kendala, karena belum ada alat pengelolaan limbah cair dan keterbatasan tempat,” Tukas Yudi. ( Samsu)

Komentar Via Facebook :