Mengenang Perlawanan Rakyat: Geger Cilegon 1888 dan Maknanya Bagi Generasi Kini
CYBER88 | CILEGON – Geger Cilegon 1888 merupakan salah satu tonggak penting dalam sejarah perjuangan rakyat Banten melawan penindasan kolonial Belanda. Peristiwa ini dipelopori oleh para ulama dan santri di wilayah Kesultanan Banten, khususnya Cilegon, yang bangkit menentang ketidakadilan kolonial. Tokoh-tokoh sentral seperti KH Wasid, KH Tubagus Ismail, dan KH Abdul Karim menjadi simbol perlawanan berbasis keimanan dan kecintaan terhadap tanah air.
Latar belakang meletusnya peristiwa ini tak lepas dari penindasan ekonomi dan sosial, seperti pajak yang mencekik, serta campur tangan kolonial dalam urusan agama dan adat lokal. Dengan semangat jihad, masyarakat Cilegon berani mengangkat senjata demi membela martabat dan keyakinan mereka.
Meskipun perlawanan ini akhirnya dihentikan oleh kekuatan militer Belanda, Geger Cilegon tetap dikenang sebagai gerakan rakyat yang terorganisir, religius, dan penuh keteladanan moral. Peristiwa ini menjadi inspirasi dalam menumbuhkan semangat juang dan nilai-nilai kebangsaan di kalangan generasi penerus.
Dewan Kebudayaan Kota Cilegon menyatakan dukungan penuh atas pelaksanaan Haul Syuhada Geger Cilegon 1888 yang digelar pada Rabu, 9 Juli 2025 di Alun-Alun Kota Cilegon. Peringatan ini dianggap sebagai momentum penting dalam merawat ingatan sejarah dan spiritualitas masyarakat Cilegon.
“Geger Cilegon bukan sekadar catatan kelam pemberontakan, melainkan warisan nilai—keberanian, solidaritas, dan keteguhan iman. Peringatan ini penting agar generasi muda menyadari bahwa mereka tumbuh di atas tanah perjuangan,” ujar Ayatullah Khumaeni, Ketua Dewan Kebudayaan Kota Cilegon.
Dewan Kebudayaan juga menilai bahwa rangkaian kegiatan seperti istighosah, santunan anak yatim, dan tausiyah dalam haul tahun ini merupakan bentuk aktualisasi nilai perjuangan melalui pendekatan budaya dan spiritual yang menyentuh masyarakat.
Lebih jauh, Dewan berharap agar peringatan Geger Cilegon ke depan dapat dikembangkan menjadi agenda budaya tahunan yang dikemas secara kolaboratif oleh unsur pemerintah, tokoh agama, budayawan, serta komunitas lokal. Tujuannya adalah untuk memperkuat narasi sejarah lokal dalam semangat kebangsaan dan membangun kesadaran identitas masyarakat Cilegon yang berakar namun adaptif terhadap zaman.


Komentar Via Facebook :