Jalan Penghubung Sukoharjo–Karanganyar–Wonogiri–Klaten Rusak Parah, Bukan Jalur Angkutan Tambang Batuan
CYBER88 | Klaten –Kondisi jalan kabupaten yang menghubungkan wilayah Kabupaten Sukoharjo, Karanganyar, dan Wonogiri dengan Kabupaten Klaten kini kian memprihatinkan. Ruas jalan yang melintasi Desa Kepoh, Kecamatan Juwiring, hingga perbatasan antarwilayah tersebut mengalami kerusakan berat, dengan lubang-lubang besar menganga di sepanjang jalur utama.
Kerusakan ini diduga kuat dipicu oleh aktivitas kendaraan berat pengangkut material tambang batuan (istilah terbaru pengganti Galian C) yang melintas setiap hari. Kondisi semakin parah akibat tingginya intensitas hujan dalam sepekan terakhir. Padahal, jalur ini bukan merupakan jalan khusus atau jalur resmi angkutan hasil tambang. Jalan tersebut berstatus jalan kabupaten yang diperuntukkan bagi mobilitas masyarakat umum, termasuk akses warga, pelajar, dan buruh pabrik. Namun, dalam praktiknya, jalan ini justru menjadi lintasan rutin truk-truk bertonase besar yang mengangkut pasir dan batu.
Berdasarkan pantauan di lapangan pada Rabu (14/1/2026), kerusakan paling parah terlihat di depan pabrik tekstil PT Sumber Sandang Top (SST). Lubang dengan diameter bervariasi antara 50 sentimeter hingga 1,5 meter memenuhi badan jalan. Kedalamannya mencapai 10–20 sentimeter dan kerap tertutup genangan air hujan, sehingga berubah menjadi “jebakan maut” bagi pengguna jalan, khususnya pengendara roda dua.
Jalur ini merupakan akses vital bagi masyarakat Juwiring yang hendak menuju Sukoharjo, Karanganyar, maupun Wonogiri. Selain menjadi urat nadi ekonomi warga, jalan ini juga dilalui ribuan buruh pabrik setiap hari.
Menurut warga setempat, kerusakan telah berlangsung selama beberapa bulan, namun memburuk drastis sejak memasuki musim penghujan awal 2026. Minimnya penerangan jalan di malam hari semakin meningkatkan risiko kecelakaan.
“Hampir setiap malam ada pengendara motor yang jatuh, apalagi kalau hujan deras. Lubangnya tidak kelihatan karena tertutup air. Kemarin sore ada ibu-ibu yang terperosok tepat di depan pabrik SST sampai harus dibawa ke puskesmas,” ujar seorang warga Kepoh.
Warga menilai, jalan ini memang tidak dirancang untuk menahan beban truk-truk besar secara terus-menerus. Tonase kendaraan tambang batuan yang jauh melebihi kapasitas kelas jalan kabupaten membuat aspal cepat retak, amblas, dan membentuk kubangan.
“Jalan ini bukan jalur angkutan tambang. Harusnya ada jalan khusus sendiri. Kalau terus dilewati truk besar, mau diperbaiki seperti apa pun pasti cepat rusak lagi,” keluh warga lainnya.
Kondisi tersebut memicu keresahan luas. Pengguna jalan kini terpaksa melaju sangat pelan, yang kerap memicu kemacetan panjang, terutama pada jam masuk dan pulang kerja karyawan pabrik.
Warga mendesak pemerintah daerah, khususnya Pemerintah Kabupaten Klaten, untuk mengambil langkah tegas. Mereka berharap dilakukan perbaikan permanen, bukan sekadar penambalan sementara. Selain itu, masyarakat menuntut pembatasan tonase serta pelarangan truk angkutan tambang batuan melintasi jalur tersebut.
“Kalau jalan ini tetap dipakai angkutan tambang, berarti keselamatan warga yang dikorbankan. Ini jalan umum, bukan jalan tambang,” tegas seorang tokoh masyarakat setempat.
Warga juga meminta Dinas Perhubungan dan aparat terkait melakukan pengawasan ketat di lapangan. Penegasan bahwa ruas Juwiring–Kepoh bukan jalur resmi angkutan tambang dinilai penting demi menjaga keselamatan publik dan mencegah kerusakan yang terus berulang. (Agus STP).


Komentar Via Facebook :