Kepala Balai KLHK Sumatera: S disangkakan pemodal dan perusak hutan TNTN

Cukong Perusak TNTN Terancam 15 Tahun Penjara

Cukong Perusak TNTN Terancam 15 Tahun Penjara

S pemodal perusak TNTN diapit aparata Gakhum Sumatera yang akan menjalani persidangan (ist/int)

CYBER88 | Pelalawan - Satu persatu perusak hutan lindung Tesso Nilo sudah ditangkap dimana sebelum nya banyaknya lahan Taman Nasional Tesso Nilo dirambah dan dijadikan lahan sawit ilegal bahkan disinyalir diperjualbelikan oknum yang tidak bertanggung jawab. 

Kepala Balai Gakkum KLHK Wilayah Sumatera, Subhan mengatakan, kasus ini merupakan pengembangan perkara perambah hutan TNTN seluas 60 hektare di Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, pada Januari-Maret 2022. Perkara ini telah memeroleh putusan inkrah dari Pengadilan Negeri Pelalawan pada 26 Agustus 2022, dengan terpidana Thamrin alias Morin dkk. Jumat, (20/01/23).

Setelah Thamrin dkk dibekuk, kini giliran pemodal inisial S (40) yang disebut sebagai pemodal dan perusak TNTN dibekuk dimana berkas perkara tersangka S dinyatakan lengkap atau P21 berdasarkan Surat Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau, 13 Januari 2023.

 Penyidik dari Balai Penegakan Hukum (Gakkum) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Wilayah Sumatera, telah menyerahkan tersangka dan barang bukti kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) di Kejaksaan Negeri Pelalawan untuk diadili. 

"Berdasarkan fakta persidangan, diketahui tersangka S bertindak sebagai pihak yang memerintahkan atau pemodal para terpidana untuk merambah dan menebang hutan TNTN," kata Subhan kepada kru media melalui keterangan tertulis, Jumat (20/1/2023). 

Subhan menjelaskan, pada 14 November 2022, tim gabungan Balai Gakkum KLHK Wilayah Sumatera dan Korwas PPNS Polda Riau menangkap tersangka S di Kota Pekanbaru. Sebelum ditangkap, S sempat melakukan perlawanan dengan memukul petugas dan merampas kembali alat berat yang digunakan untuk merambah hutan.

"Petugas saat itu mencoba menghentikan dan mengamankan S beserta komplotannya, yang sedang merambah lokasi lain dalam kawasan TNTN menggunakan alat berat," sebut Subhan.

Dari hasil penyidikan, tersangka dijerat UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, dan UU Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja jo Pasal 55 Ayat (1) Ke-1 KUHPidana. "Pelaku perambahan hutan diancam pidana penjara paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp 100 miliar," kata Subhan.

Pernyataan Subhan dibenarkan aparat Gakhum yang bertindak mengangkut S dari sarangnya. Salah satu aparat menyampaikan bahwa S akan diserahkan untuk disidangkan karena sudah meresahkan masyarakat dan aktivis pecinta hutan lindung Riau. 

Komentar Via Facebook :