Wina Armada Sukardi: Jurnalis, Guru, dan Penjaga Marwah Pers
CYBER88 | JAKARTA — Dunia pers Indonesia kembali berduka. Salah satu tokoh terbaiknya, Wina Armada Sukardi—wartawan senior, pemikir hukum pers, pengajar berdedikasi, dan penulis tak kenal lelah—telah berpulang ke Rahmatullah pada Kamis, 3 Juli 2025, pukul 15.59 WIB. Almarhum wafat setelah menjalani perawatan intensif akibat serangan jantung.
Bang Wina, begitu ia akrab disapa, bukan hanya dikenal lewat karya jurnalistik dan pemikirannya yang tajam. Ia adalah pribadi yang rendah hati, bersahaja, dan selalu terbuka bagi siapa saja—baik untuk berbagi ilmu, berdiskusi, maupun memberi ruang belajar bagi generasi muda.
Saya mengenal almarhum secara pribadi. Tahun 2011, saat mengikuti Training of Trainers (ToT) Ahli Pers Dewan Pers, beliau menjadi salah satu penguji saya. Saya masih mengingat jelas bagaimana ia menyampaikan kritik: tajam, namun tetap membangun. Sebagai peserta, saya merasa diuji oleh seseorang yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga telah menghidupi dan menjalani dunia pers dengan penuh integritas dan keteladanan.
Satu momen yang paling membekas adalah ketika beliau mengirim langsung buku karyanya, "Menjadi Ahli Dewan Pers," ke Pekanbaru. Bagi saya, itu bukan sekadar hadiah, melainkan simbol kepercayaan, persahabatan, dan dorongan moral untuk terus berjalan di jalur jurnalistik yang bermartabat. Buku itu menjadi warisan intelektual yang akan selalu saya jaga.
Meski tidak pernah masuk dalam struktur organisasi Pro Jurnalismedia Siber (PJS), Bang Wina adalah sahabat sejati kami. Ia rajin mengirimkan rilis dan artikel kepada rekan-rekan PJS di berbagai daerah, menyapa lewat telepon, berdiskusi melalui pesan, dan tak pernah lelah memberikan masukan konstruktif. Persahabatan itu bukan soal jabatan atau institusi, melainkan soal komitmen bersama menjaga marwah pers Indonesia.
Bagi kami di PJS, Bang Wina adalah teladan. Ia mengajarkan bahwa menjadi wartawan tak cukup dengan semangat saja—harus disertai keberanian menjaga independensi, keberimbangan, dan kemerdekaan pers. Ia juga termasuk pemikir hukum pers yang lantang menyuarakan batas-batas etika, hukum, dan profesionalisme, terlebih di tengah gempuran disinformasi dan tekanan kekuasaan.
Karya-karyanya, seperti Wajah Hukum Pidana Pers, Hak Pribadi vs Kebebasan Pers, hingga Menjadi Ahli Dewan Pers, akan terus menjadi rujukan penting bagi siapa pun yang ingin memahami dan memperjuangkan hakikat pers yang merdeka dan bertanggung jawab.
Kehadiran Bang Wina di tengah-tengah kami, meski secara struktural di luar PJS, terasa begitu dekat. Ia menjadi jembatan antara generasi, antara idealisme dan kenyataan, antara etika dan hukum.
Kini, beliau telah tiada. Tapi nilai-nilai yang ia tanamkan akan terus hidup dalam setiap liputan kami, dalam setiap berita yang kami tulis, dan dalam setiap langkah memperjuangkan pers yang sehat dan berintegritas.
Selamat jalan, Bang Wina.
Terima kasih atas setiap tulisan, nasihat, dan keteladanan yang engkau tinggalkan untuk kemajuan pers Indonesia.
Engkau telah menyelesaikan tugasmu dengan paripurna.
Hormat dan doa kami selalu.
Keluarga Besar PJS
Mahmud Marhaba
(Ketua Umum)


Komentar Via Facebook :