Pencarian Korban Longsor Cisarua Dilanjutkan, 80 Warga Masih Hilang

Pencarian Korban Longsor Cisarua Dilanjutkan, 80 Warga Masih Hilang

CYBER88 | Bandung Barat – Tim Search and Rescue (SAR) gabungan kembali melanjutkan operasi pencarian korban longsor di Kampung Pasir Kuning dan Kampung Pasir Kuda, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, pada Minggu (25/1/2026).

Operasi hari kedua ini difokuskan untuk menemukan sekitar 80 warga yang hingga kini masih dilaporkan hilang.
Bencana longsor terjadi pada Sabtu (24/1/2026) sekitar pukul 03.00 WIB, setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut selama beberapa hari berturut-turut. Material tanah bercampur lumpur dari lereng Gunung Burangrang meluncur deras dan menimbun permukiman warga, menyebabkan puluhan rumah rusak serta ratusan orang terdampak.

Kepala Kantor SAR Bandung, Ade Dian, mengatakan operasi pencarian sempat dihentikan sementara untuk evaluasi keselamatan sebelum kembali dilanjutkan. “Hari ini merupakan hari kedua pelaksanaan operasi SAR. Di lapangan ada SAR Mission Coordinator yang mengoordinir seluruh unsur. Informasi sementara, masih ada sekitar 80 warga yang dinyatakan hilang,” ujar Ade Dian di Bandung, Minggu (25/1/2026).

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat curah hujan ekstrem telah terjadi sehari sebelum longsor. Pada Jumat (23/1/2026), Pos Hujan Perkebunan Sukawana mencatat curah hujan mencapai 215,5 milimeter, sementara Pos Pangheotan sebesar 210,5 milimeter dalam satu hari.

Kepala Stasiun Geofisika BMKG Bandung, Teguh Rahayu, menegaskan curah hujan di atas 200 milimeter per hari masuk kategori ekstrem dan sangat berpotensi memicu longsor, terutama di wilayah perbukitan dengan kondisi tanah labil. BMKG juga mengingatkan potensi longsor susulan masih tinggi karena intensitas hujan diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan.

Selain faktor cuaca, perubahan tata guna lahan di lereng Gunung Burangrang turut disorot sebagai faktor yang memperparah dampak bencana. Kawasan yang sebelumnya berfungsi sebagai daerah resapan air diduga telah mengalami alih fungsi.

Hingga Minggu (25/1/2026), tim SAR telah mengevakuasi 12 kantong jenazah yang kemudian diserahkan ke pos Disaster Victim Identification (DVI) untuk proses identifikasi. Data sementara mencatat sebanyak 113 orang terdampak dari 34 kepala keluarga, dengan jumlah pengungsi diperkirakan mencapai 300 hingga 400 jiwa. Dari kejadian tersebut, 23 orang berhasil diselamatkan.

Terkait metode pencarian, Ade Dian menjelaskan bahwa penggunaan alat berat masih menunggu kondisi lapangan yang aman. “Alat berat sudah disiapkan, namun medan masih sangat lunak karena material longsoran berupa tanah bercampur air. Jika memungkinkan dan aman, akan langsung kita turunkan. Jika tidak, pencarian dilakukan secara manual,” jelasnya.

Kendala utama dalam operasi SAR adalah cuaca yang belum stabil serta kondisi longsoran yang masih berupa lumpur dan berpotensi bergerak kembali. “Kami sangat bergantung pada kondisi cuaca dan kestabilan material longsor demi keselamatan tim di lapangan,” tutup Ade Dian.

Komentar Via Facebook :